Bayi yang tumbuh kembangnya kelewat pesat dikelompokkan dalam kategori anak dengan kebutuhan khusus. Tak heran kalau membesarkan bayi seperti ini ternyata cukup memusingkan.
Mempunyai anak yang sehat, kuat, ceria, tidak rewel dan aktif tentu jadi dambaan setiap orang tua. Oleh karena itulah seringkali orang tua tak ingin ketinggalan mengikuti momen demi momen penting dalam proses tumbuh kembang anaknya. “Alhamdulillah, usia 3 bulan anakku sudah bisa tengkurap sendiri,” contohnya. Sebaliknya, jika di usia 8 bulan si kecil belum juga bisa duduk apalagi merangkak, orang tua biasanya cemas. “Kenapa anak saya, Dok? Ada kelainan enggak, ya?”
Lalu, bagaimana jika si kecil justru sudah memperlihatkan tahap-tahap perkembangan saat usianya belum memasuki masa tonggak perkembangan yang wajar? Contohnya, bila di usia 1,5 bulan ia sudah bisa tengkurap sendiri dan di usia 3 bulan malah sudah mampu duduk tanpa dibantu. Kebahagiaan sebagai orang tua tentu makin bertambah dengan mengalirnya pujian mengomentari kehebatan si kecil. “Usia berapa si kecil, Bu? Ha… tiga bulan sudah bisa duduk sendiri? Aduh… pintarnya!”
Akan tetapi, disamping rasa bahagia itu tidak jarang muncul juga berbagai pertanyaan perihal kemajuan perkembangan yang kurang lazim. Apa yang harus menjadi perhatian jika anak mengalami perkembangan begitu pesat?

SESUAI USIA MENTAL
Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., mengingatkan para orang tua yang memiliki bayi dengan kemampuan tumbuh kembang lebih cepat dibanding bayi seusianya, agar bersikap hati-hati. Harus disadari betul bahwa bayi-bayi seperti ini termasuk dalam kategori anak dengan kebutuhan khusus. Mereka membutuhkan penanganan yang tidak sama dengan bayi yang tumbuh kembangnya normal atau usia perkembangan mentalnya sesuai dengan usia lahir. Konkretnya, kata pengasuh rubrik Tanya Jawab Psikologi di nakita ini, “Pola asuh dan sikap orang tua haruslah disesuaikan dengan kebutuhan si anak, tepatnya sesuai dengan usia mentalnya dan bukan usia lahirnya.”
Memang, istilah kebutuhan khusus ini biasanya sempat membuat orang tua berkecil hati. Masalahnya, konsep mengenai kebutuhan khusus telanjur identik dengan anak-anak yang memiliki kelainan dan kekurangan. Padahal, tandas psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia) ini, “Kebutuhan khusus sebenarnya tidak terbatas pada anak yang memiliki kekurangan dan kelainan. Anak yang terlalu cepat atau anak yang superior pun termasuk anak dengan kebutuhan khusus.”
Kalaupun pola asuh yang diberikan orang tua mesti berbeda hal itu semata-mata dimaksudkan agar kemampuan berlebihnya tidak menjadi sia-sia. “Sayang, kan, kalau potensi cemerlang si kecil memudar hanya karena tidak mendapat stimulasi yang benar?”

MESTI BANYAK AKAL

Nah, supaya bisa memberikan yang terbaik pada si kecil, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menyarankan agar kita lebih dulu bersedia mengubah persepsi mengenai pengasuhan yang harus disesuaikan dengan usia lahirnya. Setelah itu, baru berikan stimulasi sesuai usia pertumbuhan. Maksudnya, jika si bayi baru berusia 2 bulan, tapi sudah bisa tengkurap bahkan duduk sendiri, maka orang tua harus memperlakukannya sebagai bayi usia 4-6 bulan.
Dengan kesesuaian persepsi ini diharapkan anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Syaratnya, ujar Mayke, “Orang tua jangan pernah memaksa, selain tahu persis kebutuhan anak agar tak terjadi overstimulasi.” Yang tidak kalah penting, lanjutnya, “Orang tua harus siap mental. Soalnya, pasti pusing menghadapi bayi yang banyak maunya. Semisal tak bisa diam dan mampu ngakali orang tua. Bayi seperti ini sering dianggap anak nakal.”
Oleh karena itu, orang tua yang punya anak seperti ini dituntut punya banyak akal, selain mampu mengamati tingkah polahnya. Pasalnya, bayi-bayi seperti ini umumnya sudah cukup “pandai” dan punya strategi tersendiri untuk mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Semisal, menangis menunjukkan gelagat ingin minum susu, tak tahunya cuma minta digendong. “Jadi, kejelian untuk mengamati betul-betul diuji. Orang tua mesti tahu persis kapan dan dalam kondisi seperti apa si bayi ingin digendong. Apakah karena betul-betul lapar dan haus atau sekadar kolokan. Perbedaan tipis soal ekspresi inilah yang mesti dikenali.”
Pemahaman orang tua terhadap perilaku anak akan menyadarkan si kecil bahwa trik-trik yang dilakukan supaya keinginannya dituruti tidak akan selalu terpenuhi. Sayangnya, hal ini seringkali luput dari perhatian, sehingga orang tua pun tidak menyadari potensi cemerlang buah hatinya. Kendati begitu, ada juga orang tua yang tahu potensi anaknya, tapi tidak tahu harus berbuat apa. “Pola asuh dan stimulasi yang diberikan pun akhirnya relatif standar.”
Bukan tidak mungkin, kalau akal-akalannya selalu dipenuhi, si bayi akan semakin tricky. Bisa juga sebaliknya, si anak tumbuh biasa-biasa saja atau malah di bawah standar lantaran tidak terstimulasi dengan semestinya.

JANGAN MUDAH TERKECOH
Memberi stimulasi yang baik pada bayi seperti ini, menurut Mayke, juga bukan perkara mudah karena orang tua tidak bisa tahu pasti sejauh mana kemampuannya. Selain itu, patut pula dicatat bahwa perubahan-perubahan masih terus berjalan, sehingga amat mungkin jika saat ini perkembangannya sedemikian cepat, maka di bulan-bulan berikutnya biasa saja, atau malah tertinggal.
Yang juga penting untuk dicermati, kita sering terkecoh oleh penampilan bayi. Saat sedang ngesot, contohnya, orang tua menyangka sebentar lagi anaknya bisa merangkak. Namun, ternyata ia seperti itu karena tangannya belum siap menopang berat tubuhnya. Dengan demikian orang tua tidak bisa berharap banyak bisa segera melatihnya merangkak sekalipun sedikit demi sedikit.
“Bagaimanapun, stimulasi yang diberikan harus disesuaikan dengan kemampuannya, baik secara organis maupun psikis,” ungkap Mayke. Contohnya, jika otot-otot lengannya sudah sanggup menopang berat tubuh, sekalipun belum mampu bergerak maju, maka sudah bisa diprediksikan dia akan segera masuk tahap selanjutnya yakni merangkak. Mau tidak mau, saat menstimulasinya, pasti akan terjadi proses trial and error.
Untuk memancingnya merangkak, contohnya, kita bisa menstimulasinya dengan menaruh sesuatu yang menarik perhatiannya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. “Kalau hal ini bisa dilakukan berulang-ulang selama seminggu, meski belum sempurna, tingkat kesulitannya bisa ditingkatkan. Semisal dengan cara lebih menjauhkan objek yang menarik perhatiannya tadi.”
Hal serupa bisa juga diberikan kala melatih motorik halusnya, seperti mengambil, meraih, dan menggenggam. Caranya, biarkan si kecil berada di matras dalam posisi tengkurap atau terlentang. Nah, dalam setiap posisi libatkan anak dalam main “lempar dan tangkap bola”. Tentu saja gunakan benda-benda yang mudah dipegang anak untuk menstimulasinya. Cara yang kurang lebih sama, bisa juga dilakukan dalam bentuk lain, seperti berjalan dan berbicara. Ada baiknya bila untuk melatih kemampuan berbicara anak, perkenalkan langsung dengan objek konkretnya.

HINDARI OVERSTIMULASI
Kepada bayi-bayi yang memiliki kemampuan tumbuh kembang supercepat, boleh-boleh saja kita perkenalkan huruf lebih dini dibanding anak seusianya. “Akan tetapi,” saran Mayke, “dahulukan huruf vokal, a, i, u, e dan o. Kemudian, kenalkan dia pada kata yang merupakan rangkaian dari huruf-huruf vokal, seperti ayah, ayam, air dan sebagainya.”
Saat memperkenalkan kata, sebaiknya sertakan dengan makna kata itu sendiri. Contohnya, kala mengenalkan kata “bola”, lengkapi dengan gambar bola. Khusus untuk kemampuan yang satu ini, ada baiknya mulailah perkenalkan anak pada benda-benda yang akrab dengannya.
Begitu juga jika ingin mengenalkan bilangan. Menurut Mayke, sebaiknya tidak memberikan lambang bilangan terlebih dahulu, melainkan konsep bilangan. Semisal “2” dengan menunjukkan 2 keping biskuit, atau “3” dengan memperlihatkan 3 buah pisang.
Mayke pun mengingatkan agar saat memberi stimulasi, jangan sekali-kali membuat anak merasa terbebani atau mengalami overstimulasi. Jika ia sudah mengantuk atau lapar, jangan paksa dirinya untuk terus bermain. Asal tahu saja, overstimulasi serupa bisa juga tampak dari ucapan yang kita sampaikan kepadanya, seperti, “Ayo kamu bisa” atau “Masa segitu aja enggak bisa, sih?” Jangan lupa, reaksi-reaksi kecewa dari orang-orang terdekat bisa dikategorikan sebagai tindakan overstimulasi yang amat berpeluang mematikan potensi yang dimiliki anak.
Seharusnya, saat memberikan stimulasi, orang tua membekali diri dengan pengertian. Ingat, lo, dia bayi yang masih sangat rentan dan belum bisa bicara. Ia belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan lewat ucapan yang bisa dipahami orang dewasa.
Kuncinya, tandas Mayke, “Orang tua harus tahu persis kapan anak merasa lelah, lapar dan haus, serta kapan pula bad mood-nya muncul. Ingat, dalam membesarkan anak yang terpenting diperhatikan adalah kesejahteraan emosi si anak sendiri.”
Kalau sampai terjadi salah asuh, selain kemampuannya tidak akan berkembang optimal, sifat negativistiknya akan lebih cepat muncul. Bila pada anak lain baru muncul di usia satu tahunan, anak dengan kategori ini akan lebih cepat terdorong menonjolkan keakuannya. Ia cenderung tumbuh jadi anak yang hobi mengatur orang, membandel, menentang, bahkan memanipulasi.


TABEL PERTUMBUHAN DAN PERKEMANGAN ANAK

Untuk bisa mengetahui apakah tumbuh kembang seorang anak tergolong kelewat pesat atau tidak, selain konsultasi dengan ahlinya, menurut Mayke bisa dilihat dari Tabel Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0-12 bulan berikut ini:
Umur BB (kg) PB (cm) Linkar
Kepala Gerakan
Kasar Gerakan
Halus Komunikasi/
Bicara Sosial dan
Kemandirian
1 bln 3,0-4,3 49,8-54,6 33-39 Tangan & Kaki bergerak aktif Kepala menoleh ke samping Bereaksi terhadap bunyi lonceng Menatap wajah ibu atau pengasuh
2 bln 3,6-5,2 52,8-58,1 35-41 Mengangkat kepala ketika tengkurap Bersuara Tersenyum spontan
3 bln 4,2-6,0 55,5-61,1 37-43 Kepala tegak ketika didudukan Memegang mainan Tertawa/ berteriak Memandang tangannya
4 bln 4,7-6,7 57,8-63,7 38-44 Tengkurap/ telentang sendiri
5 bln 5,3-7,3 59,8-65,9 39-45 Meraih, menggapai Menoleh ke arah datangnya suara Meraih mainan
6 bln 5,8-7,8 61,6-67,8 40-46 Duduk tanpa berpegangan Memasukkan Biskuit ke mulut
7 bln 6,2-8,3 63,2-69,5 40,5-46,5 Mengambil maianan dengan tangan kanan & kiri Bersuara ma, ma… ma… ma
8 bln 6,6-8,8 64,6-71,0 41,5-47,5 Berdiri berpegangan
9 bln 7,0-9,2 66,0-72,3 42-48 Menjimpit Melambaikan tangan
10 bln 7,3-9,5 67,2-73,6 42,5-48,5 Memukulkan mainan di kedua tangan Bertepuk tangan
11 bln 7,6-9,9 68,5-74,9 43-49 Memanggil mama, papa Menunjuk meminta
12 bln 7,8-10,2 69,6-76,1 43,5-49,5 Berdiri tanpa berpegangan Memasukkan maianan ke cangkir Bermain dengan orang lain

Source : Nakita