KOMPAS.com – Senin, 25/1/2010 | 13:50 WIB. Masih ingatkah Anda dengan kejadian meninggalnya seorang bocah akibat terjatuh dari lantai atas rumah susun tempatnya bermain? Saking asyiknya anak itu bermain, dan orang tua sibuk dengan pekerjaan atau urusan masing-masing, sehingga pengawasan terhadap anak-anak menjadi kendor. Hal ini menunjukkan kelalaian orangtua, tetapi sekaligus juga mengingatkan kembali betapa anak-anak kekurangan tempat untuk bermain.

Padahal, bermain adalah hak asasi anak-anak. Konvensi Hak Anak-anak mencantumkan bahwa anak-anak punya hak untuk beristirahat dan bersantai, bermain, dan turut serta dalam segala kegiatan rekreasi sesuai dengan usianya. Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pasal 7 ayat 3 mencantumkan hal yang sama tentang hak anak-anak.

Sayangnya, kadang-kadang terbatasnya lahan bermain, taman, ataupun tanah lapang menjadi kendala bagi mereka untuk bermain. Contohnya saja, anak-anak yang bermain sepak bola di kolong jembatan, di pinggir sungai, atau pun di pinggiran jalan, memiliki resiko mengalami kecelakaan.

”Jatuhnya anak dari balkon yang seharusnya bukan tempat mereka bermain merupakan salah satu sinyal kalau memang mereka kekurangan arena atau tempat untuk bermain,” jelas Efriyani Djuwita, MSi, psikolog anak dari FKUI.

Bahkan dari banyak kasus yang terjadi saat ini, bukan hanya terbatasnya lahan bermain yang menjadi penyebab anak kurang bermain. Hal-hal lainnya antara lain:

1. Segi waktu. Anak-anak terbatasi karena mengikuti sejumlah kegiatan. Misalnya, diikutsertakan dalam les atau kegiatan ekstrakurikuler.

2. Orangtua membatasi waktu bermain di luar rumah. Orangtua takut akan terjadi penculikan, si kecil bergaul dengan anak-anak nakal, atau akibat disiplin yang terlalu ketat.

3. Kondisi bermain anak-anak yang terbatas. Tidak ada taman, dan lokasi rumah yang berada di lingkungan yang kurang sehat. Akibatnya anak hanya di dalam rumah, diberi mainan yang kurang mendidik seperti game atau playstation.

4. Pengawasan anak kurang, karena tidak ada pengasuh khusus, orang tua bekerja, dan lingkungan rumah dirasa kurang aman. Mungkin bagi Anda ini terlihat sepele. ”Ah, untuk apa sih anak bermain, lebih baik belajar,” ujar Djuwita menirukan salah satu orangtua yang berkonsultasi padanya.

Padahal, bermain memiliki banyak manfaat. Lewat bermain anak-anak akan melatih keseimbangan tubuh dan gerak motorik halus atau kasar. Mereka juga akan berlatih untuk menggunakan ototnya, mengkoordinasikan gerakan, dan melatih dan mempertajam panca indera (misalnya pendengaran), dan menyalurkan energi. Hal ini bukan hanya sebatas motorik. Ada manfaat lain yang bisa didapat lewat bermain. Misalnya aspek sosial:

1. Membina relasi dan komunikasi. Anak-anak yang bermain dengan teman-temannya akan terlatih untuk berbicara, dan membangun pertemanan.

2. Belajar peran sosial. Misalnya mereka berpura-pura menjadi dokter, polisi, atau juru masak. Semua ini membutuhkan teman untuk bermain.

3. Belajar peran jenis kelamin. Misalnya saat menirukan menjadi ayah atau ibu.

4. Belajar mengatasi masalah. Misalnya saat teman menangis, marah, bermain curang, menyakiti. Mereka akan tahu apa yang harus dilakukan.

5. Belajar aturan atau moral. Karena bermain berkelompok, mereka tahu cara membela teman atau memperlakukan lawan main, lalu jika salah harus minta maaf. Bermain juga memiliki manfaat dalam aspek emosi dan kepribadian. Misalnya ekspresi diri, konsep diri, sportivitas, tanggap, menyenangkan, dan melepaskan ketegangan. Dalam aspek kognitif, misalnya: mengembangkan kreativitas, daya ingat, dan imaginasi.