Hmm… ini nih yang membuatku rada was-was jika nanti Dasha kena campak meskipun imunisasi campak ini sudah ia dapatkan ketika berusia 9 bulan. Setelah membaca artikel ini paling tidak bisa punya ancang-ancang gimana nantinya menghadapi ketika si kecil kena campak.

Menurut World Health Organization (WHO), campak merupakan salah satu penyebab utama kematian anak di dunia. Pada tahun 2008, terdapat 164.000 kematian yang disebabkan penyakit campak, berarti hampir 450 kematian setiap hari, atau 18 kematian setiap jam. Adakah cara melindungi anak kita dari ancaman itu?

Uffhhh… akhirnya Mira bernafas lega. Hajat besar perrnikahan adik semata wayangnya sudah selesai dengan lancar. Si kecil Aldo (1 tahun) juga tidak rewel sepanjang acara. Meskipun batuk, dia tidak minta gendong mama dan nurut sama pengasuhnya. Namun setelah acara selesai, Aldo mulai rewel dan menangis minta digendong. Dan Mira sangat terkejut saat menyentuh badan Aldo yang terasa panas. Mira juga baru tersadar, Aldo juga terlihat lemas, tidak ceria lagi. Saat hendak menggantikan baju Aldo, dia tambah panik saat melihat bercak-bercak merah yang merebak di dada anaknya. ”Duh, Nak.. Kamu sakit apa?” Mira menyesal akibat kesibukannya mengurus acara pernikahan, dari kemarin dia kurang memperhatikan Aldo. Dengan penuh kekhawatiran, Mira membawa Aldo yang lemah dan demam tinggi ke dokter terdekat.

Campak ( Measles)
Demam tinggi yang disertai timbulnya bercak-bercak merah seperti biang keringat, merupakan gejala penyakit campak. Bedanya, kalau bercak merah biang keringat, tidak disertai dengan demam tinggi. Menurut Dr. John Pillinger, GP., campak disebabkan oleh paramyxovirus, dan sangat mudah menular kepada orang lain. Siapapun orang yang belum pernah terkena campak dapat terinfeksi.

Gejala awal penyakit campak sulit dideteksi karena tidak jauh berbeda dengan gejala flu biasa. Penderita biasanya batuk dan pilek sekitar dua hari, kemudian dilanjutkan dengan demam tinggi hingga mencapai 400 C. Badan terasa nyeri, mata terlihat kemerahan, kemudian timbul bercak kemerahan yang akan merebak ke sekujur tubuh selama kurang lebih tujuh hari. Biasanya, jika bercak merah sudah keluar semua, maka demam akan turun dengan sendirinya.

Jika campak disertai dengan komplikasi, seperti infeksi bakteri pneumonia, infeksi telinga, trombositopenia, dan infeksi otak, maka perlu perawatan yang lebih intensif karena demam tidak akan otomatis turun, bahkan bila diperlukan anak harus dirawat di rumah sakit. Jika terlambat penanganannya, maka kematian bisa mengancam jiwa anak.

Perawatan di Rumah
Jika campak tidak disertai dengan komplikasi dan boleh dirawat di rumah, maka orangtua harus memberi perhatian penuh dalam merawat anak dengan cara :

* Konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan informasi perawatan dan pengobatan yang tepat. Berikan obat sesuai dengan petunjuk dan aturan dokter.

* Isolasi. Anak yang menderita campak harus dipisahkan dengan yang lain, terutama anak kecil, maupun ibu hamil. Sebab, virus campak sangat mudah menular melalui kontak udara. Masa isolasi minimal empat hari setelah bercak keluar. Pisahkan peralatan yang dia pakai seperti alat makan, bantal, selimut, dan pakaian supaya tidak menulari orang lain melalui kontak langsung.

* Istirahat total. Untuk mengembalikan kesehatannya, anak sebaiknya istirahat total dan tidak meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Dengan istirahat total, kekuatan bisa terkumpul kembali seiring dengan kesembuhan. Selain itu, kondisinya yang lemah, sangat rentan untuk terkena tambahan penyakit lain, sehingga sebaiknya anak tetap tinggal di rumah. Resiko untuk menulari orang lain juga dapat diperkecil.

* Berikan makanan yang sehat. Anak yang tekena campak, biasanya rewel karena menahan rasa sakit dan gatal, malas makan dan minum. Orangtua hendaknya kreativ menyiapkan menu makanan supaya anak tertarik untuk menikmati. Berikan nutrisi yang cukup dan hindari memberikan makanan yang bisa merangsang batuk, seperti permen, coklat, dan gorengan.

* Bantu mengurangi rasa gatal, dengan membersihkan keringat dan kotoran yang menempel di tubuhnya. Bisa dilakukan dengan dilap air hangat dan sabun.

Bentengi dengan Imunisasi
Menurut World Health Organization (WHO), campak merupakan salah satu penyebab utama kematian anak di dunia. Pada tahun 2008, terdapat 164.000 kematian yang disebabkan penyakit campak, berarti hampir 450 kematian setiap hari, atau 18 kematian setiap jam. Lebih dari 95% kematian karena penyakit campak terjadi di negara berpendapatan rendah dengan infrastruktur kesehatan yang lemah pula. Data tersebut sangat ”memprihatinkan” dan membuat seluruh orangtua harus waspada jangan sampai campak merenggut nyawa sang buah hati. Adakah cara untuk mencegahnya?

WHO dan Departemen Kesehatan Indonesia merekomendasikan pemberian imunisasi campak untuk mencegahnya. Penelitian dari WHO juga menunjukkan imunisasi campak telah berhasil menurunkan 78% kematian akibat campak antara tahun 2000 dan 2008 di seluruh dunia. Imunisasi campak diberikan pada saat anak berusia 9 tahun, dan diulang pada saat anak usia kelas 1 SD. Jangan anggap enteng imunisasi dan selalu periksa jadwal pemberiannya untuk si kecil. Menurut WHO, bayi yang belum diimunisasi campak, mempunyai resiko lebih tinggi terkena infeksi campak. Jadi kenapa harus ditunda, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Source : Parentsguide.co.id